Kalau Anda melakukan “browsing” di internet, maka Anda akan menemukan banyak senyawa baru, baik dari tanaman maupun sintetik kimia. Misalnya Katinon yang diperoleh dari daun Catha edulis (Khat) yang di wilayah Afrika Utara banyak ditemukan tanamannya dan daunnya secara legal di sana dikunyah seperti makan sirih agar tidak mengantuk dan bisa menahan lapar.
Demikian juga, daun ganja di wilayah Aceh biasa digunakan sayur lalapan untuk makan. Namun di beberapa negara selain di wilayah Afrika Utara, tanaman itu tidak bisa tumbuh, sehingga yang diatur adalah zat kandungannya Katinon dan turunannya yang dapat dibuat secara sintetik kimia.
Dari referensi ilmiah, turunan katinon ada beberapa misalnya metilon (diduga digunakan artis RA), metedron, butilon, mefradon, fluormetkatinon, metilendioksipirovaleron, metilendiosimetkatinon, dan sebagainya.
Katinon dan turunannya di AS dan Inggris termasuk obat golongan I yang dilarang untuk diedarkan dan digunakan. Secara struktur kimia, katinon dan amfetamin ada kemiripan dengan struktur efedrin maupun pseudoefedrin.
Tahun 1912, XTC sudah dapat disintesis oleh pabrik farmasi Merck di Jerman, sedangkan Mefedron disintesis tahun 1933. Pada waktu itu, XTC secara legal digunakan stimulan agar tubuh tetap segar, tidak mengantuk dan penekan nafsu makan.
Namun, senyawa baru ini (designer drugs) sejak akhir dan awal tahun 2000 mulai banyak disalahgunakan, terutama munculnya bisnis hiburan seperti diskotek, kafe yang merupakan sasaran peredaran narkoba baik mulai dari obat penenang untuk bisa tidur maupun stimulan agar kuat begadang dan ajojing.
Jika benar turunan katinon juga sudah mulai digunakan di Indonesia, maka psikotropika dan narkotika (narkoba) yang dilaporkan pernah dan masih disalahgunakan adalah Metamfetamin (Sabu-Sabu), XTC, Kokain, Morfin, Heroin (Putau), ganja, katinon, metkatinon.
Ada pula, obat golongan penenang (pil koplo), misalnya nitrazepam, klonazepam, flunitrazepam, bromazepam, klozapin juga karisoprodol, triheksilfenidil dan dekstrometorfan.
Dari uraian di atas mungkin di masa mendatang akan masuk ke Indonesia turunan narkoba baru yang lain yang perlu diketahui dan diwaspadai.
Akhir-akhir ini dua senyawa kimia me-til-on dan katinon mencuat di Indonesia. Ini terkait dengan tertangkapnya artis terkenal yang diduga mengkonsumsi zat-zat yang sepertinya memang termasuk dalam kelompok “zat terlarang”. Bagaimana rumus molekul dan rumus struktur keduanya?
Berikut ini sekilas informasi tentang dua zat tersebut. Ya zat itu adalah Me-til-on yang mempunyai rumus molekul C11H13NO3 dan Katinon yang mempunyai rumus molekul C9H11NO. Me-til-on ini merupakan turunan dari katinon. Tapi mengapa semuanya memiliki akhiran -on, apakah mereka semua termasuk dalam golongan alkanon yang memang memiliki gugus fungsi keton? Ok, perhatikan saja rumus kimia dari keduanya.
Metilon (Methylone) ini memiliki nama (IUPAC) (±)-2-methylamino-1-(3,4-methylenedioxyphenyl)propan-1-one
Katinon (Cathinone) memiliki nama (IUPAC) (2S)-2-amino-1-phenylpropan-1-one.
Untuk melihat struktur senyawa masing-masing letakan mouse di atas nama senyawa maka secara pop-up akan tertampil struktur senyawanya.
Baca Selengkapnya…
Belajar Kimia Jadi Lebih Mudah dan Menyenangkan
Wednesday, February 20, 2013
Mengenal Katinon
Tuesday, July 10, 2012
Cara Mengeluarkan Detoks dari Tubuh
Air putih hangat
Air kelapa hijau
Minumlah jus buah
Teh Hijau / Hitam Menetralisir Merkuri
Yogurt
Melindungi diri dari radikal bebas
Olahraga
sumber : http://vizuhailinamaya.blogspot.com/2011/03/beberapa-cara-mengeluarkan-racun-detoks.html Baca Selengkapnya…
Thursday, June 7, 2012
Apa Itu Inhalan dan Efeknya Bagi Kesehatan
Tanpa kita sadari banyak produk di sekitar kita yang seringkali dapat disalahgunakan. Hal ini harus dapat dicegah, termasuk didalamnya adalah mencegah penyalahgunaan inhalan. Inhalan adalah suatu kelompok senyawa yang mudah menguap yang menghasilkan efek toksik yang mirip dengan alkohol. Inhalan terdapat pada pelarut yang mudah menguap, atau aerosol yang biasa digunakan dalam rumah tangga, seperti lem, penghapus cat kuku, pengencer cat, deodorant dan cairan pembersih.
Penyalahgunaan produk-produk yang menghasilkan inhalan tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan penyalahgunaan narkotika seperti penggunaan mariyuana, kokain, ganja dan psikotropika yang selama ini telah menjadi perhatian banyak pihak.
Sekarang ini, banyak anak muda yang menghirup uap dari pelarut produk-produk tersebut diatas untuk mendapatkan efek seperti efek dari alkohol, yang dapat dinikmati dengan cepat tanpa menyadari bahwa hal ini dapat menyebabkan dampak serius bagi kesehatan.
Ciri-ciri orang yang menggunakan inhalan antara lain:
Mala merah, berkaca-kaca atau berair,
Pengucapan kata- kala yang lambat, bergumam kental dan tidak jelas,
Terlihat seperti orang mabuk,
Terdapat noda cat pada tangan atau sekitar mulut,
Bau bahan kimia di pakaian atau di dalam ruangan,
Bau mulut yang tidak biasa,
Sering merasa mual dan / atau kehilangan nafsu makan.
Terdapat 4 kategori inhalan yaitu:
Pelarut yang mudah menguap, adalah cairan yang menguap pada suhu kamar. Biasanya terkandung dalam produk yang sering digunakan dalam rumah tangga atau industri seperti pengencer cat, cairan yang digunakan untuk mencuci kering (dry cleaning fluids), lem, correction fluids dan spidol.
Aerosol, adalah produk semprot yang mengandung gas dan cairan. Termasuk didalamnya adalah cat semprot, deodorant dan hair spray.
Gas, termasuk anastetik seperti eter, kloroform, halotan dan nitrogen oksida yang sering disebut "gas tertawa". Nitrogen oksida adalah gas yang paling sering disalahgunakan dan biasanya terdapat pada kemasan whipped cream dan produk untuk menaikkan tingkat oktan pada mobil balap.
Nitrit, yang sering dimasukkan sebagai golongan khusus dari inhalan, karena tidak seperti golongan inhalan lain yang kerjanya langsung mempengaruhi sistem saraf pusat, nitrit terutama bekerja dengan memperlebar pembuluh darah dan melemaskan otot. Bila inhalan lain biasanya digunakan untuk mengubah mood, maka nitrit sering digunakan untuk memperbaiki aktifitas seksual. Yang termasuk nitrit adalah sikloheksit, isoamil nitrit dan isobutil nitrit.
Efek Jangka Pendek
Pada umumnya inhalan bekerja langsung pada sistem saraf pusat dan biasanya digunakan untuk mengubah mood atau sering juga digunakan sebagai doping. Efek jangka pendek yang dihasilkan mirip dengan anastetik dimana inhalan dapat memperlambat metabolisme tubuh.
Inhalan diserap oleh paru-paru, masuk ke peredaran darah dan dengan cepat terdistribusi ke otak dan organ lainnya. Dalam hitungan detik, pengguna langsung merasakan efek yang sama seperti efek yang dihasilkan apabila meminum alkohol, dimana pengguna biasanya menjadi berbicara melantur, sulit mengkoordinasikan gerakan anggota badan, euphoria dan merasa pusing. Pada kasus kecanduan, pengguna dapat merasa kepala terasa ringan, halusinasi dan delusi.
Hanya dalam hitungan menit dapat terjadi kematian karena gagal jantung apabila pengguna menghirup inhalan dengan konsentrasi tinggi dan hirupan yang dalam. Sindrom ini sering disebut sudden sniffing death, yang dapat terjadi hanya karena satu hirupan saja.
Efek Jangka Panjang
Pengguna yang menghirup inhalan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Menghirup lem dan pengencer cat dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, sedangkan menghirup menghirup toluen dan trikloroetilen dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Pemakaian inhalan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi dan kecerdasan bahkan dapat menyebabkan hilang ingatan.
Inhalan yang digunakan dalam waktu lama dapat menyebabkan pengguna merasakan dorongan kuat untuk terus menggunakannya dan menyebabkan efek ketergantungan. Gejala penyalahgunaan inhalan dalam jangka panjang antara lain adalah kehilangan berat badan, berkurangnya bentuk dan kekuatan otot, disorientasi, gampang marah, depresi, hilangnya pendengaran, kejang pada anggota badan, kerusakan sumsum tulang, kerusakan hati dan ginjal, habisnya oksigen dalam darah dan halusinasi. Pemakaian jangka panjang juga terkait dengan leukemia serta kecanduan fisik dan psikologis. Penggunaan inhalan jangka panjang dapat menghilangkan secara permanen kemampuan untuk melakukan fungsi sehari-hari seperti berjalan, berbicara dan berpikir.
Penyalahgunaan inhalan sering dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dihirup (sniffing) atau snorting dari uang / asap inhalan tersebut, menyemprotkan langsung ke hidung atau mulut, efeknya lebih kuat, menghirup atau menghisap uap / asap dari zat yang telah disemprotkan atau ditampung ke dalam kantung plastik atau kantung kertas (bagging), menghisap melalui bahan kain yang telah direndam ke dalam zat inhalan (huffing), dan menghisap dari balon yang telah diisi oksida nitrit.
Toleransi
Ketika pemakaian inhalan berlanjut selama beberapa waktu, si pemakai akan mengalami reaksi toleransi terhadap inhalan. Hal ini berarti, si pemakai akan membutuhkan pemakaian inhalan yang semakin sering dan dengan jumlah yang lebih besar untuk mencapai efek yang diinginkan.
Baca Selengkapnya…
Wednesday, April 25, 2012
Tembakau lebih berbahaya dari marijuana?
Saturday, March 24, 2012
Senyawa Kimia Penyebab Iritasi pada Tomcat
Baru-baru ini di tanah air tercinta ini semua orang dihebohkan oleh adanya serangan Tomcat di Surabaya, dan semua dibuat olehnya menjadi resah. Apakah sesungguhnya Tomcat itu, bagaimana perilakunya dan bagaimana mengatasinya? Berikut ini penulis mencoba menguraikannya, semoga bermanfaat.
Siapakah Tomcat itu? Tomcat merupakan sebutan untuk nama serangga penyebab peradangan kulit atau Dermatitis paederus. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Rove beetle, atau Kumbang jelajah atau kumbang pengembara. Dermatitis ini merupakan bentuk reaksi alergi akibat kontak dengan kumbang atau ordo Coleoptera, famili Staphylinidae, genus Paederus yang keberadaanya umum di seluruh dunia, khususnya banyak ditemukan di daerah tropis. Kumbang ini sesungguhnya ergolong serangga berguna karena berperan sebagai predator aktif pada beberapa serangga pengganggu tanaman padi, seperti wereng batang coklat, wereng punggung putih, wereng zigzag, wereng hijau dan hama kedelai yang banyak terdapat di iklim tropis.
Kumbang dewasa berpindah dari habitatnya dengan berjalan di permukaan tanah atau melalui tajuk tanaman. Pada malam hari ia tertarik pada lampu pijar dan neon, dan sebagai akibatnya, secara tidak sengaja bersentuhan dengan kehidupan manusia. Kumbang ini akan menjadi penggganggu utama ketika jendela atau pintu bangunan rumah dibiarkan terbuka. Kumbang ini tidak menggigit atau menyengat, tapi secara tidak disengaja tersapu atau tergaruk tangan sehingga bagian tubuhnya hancur di atas kulit. Ketika itu ia akan mengeluarkan cairan hemolimfe, yang berisi pederin (C25H45O9N), zat kimia iritan kuat, yang akan menimbulkan reaksi gatal-gatal, rasa terbakar, eritema dan mengalir keluar 12-48 jam kemudian. Lesi-lesi kulit biasanya linear, dan kulit melepuh (vesiko-vitiliginous), bisa juga terjadi konjungtivitis pada mata atau bungkul-bungkul kemerahan.
Baca Selengkapnya…
Wednesday, February 22, 2012
Zat Kimia Pada Otak Penyebab Gay
Tak ada yang mengetahui pasti pendorong preferensi seksual seseorang. Namun, berdasar ujicoba terbaru ilmuwan China, ditemukan zat otak pendorong orang menjadi gay.
Serotonin diketahui mampu mempengaruhi perilaku seksual pada tikus dan manusia. Senyawa ini biasanya juga mengurangi aktivitas seksual seseorang.
Ujicoba ahli saraf Yi Rao dari Peking University dan National Institute of Biological Science di Beijing menunjukkan, serotonin ternyata juga mempengaruhi keputusan pria untuk ‘menggoda’ wanita atau pria.
Rao dan tim melakukan uji melalui pengurangan neuron penghasil serotonin atau protein penting penghasil serotonin dalam otak. Tak seperti tikus jantan lain, tikus yang kekurangan serotonin tak memiliki hasrat seksual terhadap tikus betina.
Sebaliknya, tikus itu malah tertarik pada tikus jantan serta lebih sering menyanyikan lagu cinta ultrasonik. Biasanya, tikus jantan menyanyikan lagu ini untuk menggoda tikus betina agar bisa melakukan seks.
Ketika tim menyuntik zat netralisir pada tikus yang kekurangan serotonin, tikus kembali berhasrat pada tikus betina. Meski begitu, kadar serotonin berlebih justru mengurangi aktivitas seksual tikus, baik pada jantan maupun betina.
Artinya, serotonin dalam otak harus dijaga dalam kadar tertentu guna memastikan seseorang tetap berlaku layaknya heteroseksual.
Menyikapi temuan ini, ilmuwan Florida State University Elaine Hull mengklaim, studi ini bisa mempengaruhi perilaku homoseksual atau biseksual manusia.
Sebelum menyimpulkan serotonin sebagai faktor perilaku homoseksual, Hull memperingatkan, ilmuwan butuh lebih banyak informasi letak persisnya area otak terkait potensi pengembangan serotonin tersebut. Baca Selengkapnya…
Tuesday, December 20, 2011
Chemistry of Love
Ternyata cinta bisa bikin addict alias ketagihan. Tidak berbeda dengan efek obat terlarang (drugs). Ini disebabkan adanya hormon dopamine dan hormon norepinephrine yang ber-toleransi. Maksudnya? Ya, misalkan saat ini kita sedang jatuh cinta untuk yang pertama kali (first love), maka untuk merasakan jatuh cinta yang kedua kali kita membutuhkan lebih banyak hormon yang telah disebutkan diatas tadi. Begitu juga untuk yang ketiga, keempat, kelima, dst, dibutuhkan lebih banyak lagi bila ingin merasakan sensasi kebahagian seperti jatuh cinta pertama kali dulu.
Lalu apa itu hormon dopamine dan hormon norepinephrine ?
Sebenarnya dua hormon tersebut merupakan bagian dari pemicu adanya perasaan cinta, The Chemistry of Love. Seperti yang ditulis oleh Azahra bahwa professor Helen Fisher dari Rutgers University meneliti tentang fenomena ini. Dikatakan oleh beliau bahwa :
Saat seseorang jatuh cinta, maka otaknya akan mengeluarkan hormon dopamine dan norinephrine dalam jumlah yang banyak. Hormon dopamine adalah 'pleasure chemical' yaitu hormon yang membuat timbulnya rasa bahagia yang luar biasa. Sementara hormon norepinephrine mirip dengan hormon adrenaline yang memicu beberapa organ tubuh seperti jantung, pembuluh darah dan kelenjar keringat hingga mengalami gejala-gejala seperti deg-degan, muka memerah, keringat dingin dan lain-lain.
Sementara beberapa kolega professor Fisher yang sesama peneliti dari University College London (UCL) Inggris, menambahkan bahwa meskipun otak mengeluarkan hormon dopamine dan norepinephrine dalam jumlah banyak, namun akan mengalami penurunan level penyaluran rangsang diantara sel-sel syaraf otaknya. Imbasnya ke psikis yaitu yang bersangkutan akan memendam harapan dan khayalannya. Akibatnya akan berbalik menjadi sebuah 'obsesi' sehingga muncul pheromenos (zat yang disekresikan oleh suatu organisme, yang mempengaruhi tingkah laku organisme lain dari spesies yang sama) yang akan bekerja kemudian. Nah inilah yang menyebabkan seseorang itu muncul keberanian untuk pedekate, nembak, ngerayu, dsb.
Lalu bisakah menahan munculnya hormon-hormon tersebut ?
SEDIKIT CERITA TENTANG "THE CHEMISTRY OF LOVE",
TAPI CUMA SEDIKIT SAJA, KARNA YANG MENULIS BUKANLAH PUJANGGA
LEBIH BAIK KITA BALIK KATA-KATANYA MENJADI
"LOVE CHEMISTRY"
Baca Selengkapnya…
Wednesday, September 7, 2011
Bahaya Merkuri pada Kosmetik
Merkuri atau air raksa (Hg) merupakan golongan logam berat dengan nomor atom 80 dan berat atom 200,6. Merkuri merupakan unsur yang sangat jarang dalam kerak bumi, dan relatif terkonsentrasi pada beberapa daerah vulkanik dan endapan-endapan mineral biji dari logam-logam berat. Merkuri digunakan pada berbagai aplikasi seperti amalgam gigi, sebagai fungisida, dan beberapa penggunaan industri termasuk untuk proses penambangan emas. Dari kegiatan penambangan tersebut menyebabkan tingginya konsentrasi merkuri dalam air tanah dan air permukaan pada daerah pertambangan. Elemen air raksa relatif tidak berbahaya kecuali kalau menguap dan terhirup secara langsung pada paru-paru.
Bentuk racun dari air raksa pada proses masuk pada tubuh manusia adalah methyl mercury (CH3Hg+ dan CH3-Hg-CH3) dan garam organik, partikel mercuric khlor (HgCl2). Methyl mercury dapat dibentuk oleh bakteri pada endapan dan air yang bersifat asam. Ion merkuri anorganik adalah bersifat racun akut. Elemen merkuri mempunyai waktu tinggal yang relatif pendek pada tubuh manusia tetapi persenyawaan methyl mercury tinggal pada tubuh manusia 10 kali lebih lama merkuri berbentuk metal (logam) dan menyebabkan tidak berfungsinya otak, gelisah/gugup, ginjal, dan kerusakan liver pada kelahiran (cacat lahir).
Methyl mercury terakumulasi pada rantai makanan, sebagai contoh adalah merkuri bisa masuk ke dalam tubuh manusia dengan mengkonsumsi ikan yang hidup pada perairan yang tercemar merkuri. Senyawa phenyl mercury (C6H5Hg+ dan C6H5-Hg-C6H5) bersifat racun moderat dengan waktu tinggal yang pendek pada tubuh tetapi senyawa ini berubah bentuk secara cepat pada lingkungan menjadi bentuk merkuri anorganik. Dari survei efek bahaya, merkuri ini adalah bersifat racun bagi semua bentuk kehidupan, dan bersifat lambat untuk dikeluarkan dari tubuh manusia. Methyl mercury beracun 50 kali lebih kuat daripada merkuri anorganik.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan, kadar merkuri maksimum di dalam air adalah 0,001 mg/l.
Bahaya Merkuri pada Kosmetik
Pemakaian kosmetik yang mengandung Merkuri dapat mengakibatkan
- Dapat memperlambat pertumbuhan janin
- Mengakibatkan keguguran (Kematian janin dan Mandul)
- Flek hitam pada kulit akan memucat (seakan pudar) dan bila pemakaian dihentikan, flek itu dapat / akan timbul lagi & bertambah parah (melebar).
- Efek REBOUND yaitu memberikan respon berlawanan (KULIT AKAN MENJADI GELAP/KUSAM SAAT PEMAKAIAN KOSMETIK DIHENTIKAN).
- Bagi wajah yang tadinya bersih lambat laun akan timbul flek yang sangat parah (lebar).
- Dapat mengakibatkan kanker kulit.
Unsur merkuri yang ada di kosmetik akan diserap melalui kulit, kemudian akan dialirkan melalui darah keseluruh tubuh dan merkuri itu akan mengendap di dalam ginjal yang berakibat terjadinya GAGAL GINJAL YANG SANGAT PARAH. (BISA MENYEBABKAN KEMATIAN) Merkuri dalam krim pemutih (yang mungkin tidak tercantum pada labelnya) dapat menimbulkan keracunan bila digunakan untuk waktu lama.
Walau tidak seburuk efek merkuri yang tertelan (dari makanan ikan yang tercemar), tetap menimbulkan efek buruk pada tubuh. Kendati cuma dioleskan ke permukaan kulit, merkuri mudah diserap masuk ke dalam darah, lalu ,memasuki system saraf tubuh. Manifestasi gejala keracunan merkuri akibat pemakaian krim kulit muncul sebagai gangguan system saraf, seperti tremor (gemetar), insomnia (tidak bisa tidur), pikun, gangguan penglihatan, ataxia (gerakan tangan tak normal), gangguan emosi, depresi dll.
Oleh karena umumnya tak terduga kalau itu penyakitnya, kasus keracunan merkuri sering didiagnosis sebagai kasus Alzheimer, Parkinson, atau penyakit gangguan otak. Setelah sekian lama, kosmetik tsb akan diserap melalui kulit dan dialirkan melalui darah ke seluruh tubuh, akhirnya merkuri itu akan mengendap di dalam ginjal, sehingga menyebabkan gagal ginjal yang sangat parah bagi pemakainya.
Produk kosmetik yang dipakai tersebut akan menyebabkan iritasi parah pada kulit, yakni berupa kulit yang kemerah-merahan dan menyebabkan kulit menjadi mengkilap secara tidak normal. Kondisi tersebut telah banyak dikeluhkan oleh para konsumen yang sudah terlanjur menggunakan produk-produk kosmetik illegal tersebut. 100%
Cara Mendeteksi Kosmetik Bermerkuri
Produk kosmetik bermerkuri umumnya menjanjikan wajah putih dalam tempo singkat. Seminggu saja menggunakan produk ini, wajah dijamin langsung cling.
"Kalau ada produk yang bisa membuat wajah menjadi putih dalam seminggu, konsumen harus waspada karena kemungkinan produk itu mengandung merkuri. Kosmetik yang aman bisa memutihkan kulit, namun membutuhkan waktu yang lama bahkan bisa berbulan-bulan ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, Rosnini Savitri,
Dia menambahkan, konsumen seharusnya tidak tergiur hanya dengan iming-iming menjadi putih dalam waktu singkat saja. Kandungan merkuri bisa menyebabkan kerusakan pada kulit, susunan saraf, otak, ginjal, serta gangguan perkembangan janin. Jangan lupa, merkuri juga dapat menyebabkan kanker.
Mungkin untuk mencegah dapat digunakan kosmetik-kosmetik tradisional untuk merawat kulit sebagai alternatif,jadi hati-hatilah dalam memilih kosmetik? teliti dan selalu waspata terhadap Bahaya Merkuri Pada kosmetik
Baca Selengkapnya…
Monday, August 8, 2011
Bagaimana Cara Kerja Tes Kehamilan
Tes kehamilan bekerja berdasarkan ada tidaknya hormon human choironic gonadotropin (hCG), suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh plasenta segera setelah proses pembuahan. Plasenta mulai menguat setelah proses pembuahan sel telur dalam uterus, dimana hal ini terjadi selama sekitar 6 hari setelah pembuahan. Kadar hCG bertambah 2 kali lipat setiap 2 hari, sehinggan tes kehamilan sebaiknya dilakukan dua minggu setelah proses pembuahan dari pada hanya satu minggu saja.
Tes ini bekerja dengan cara mengikat hormon hCG yang berasal dari darah atau urine pada antibodi dan indikator. indikator ini hanya mengikat hormon hCG, sedangkan hormon lai tidak akan terikat pada indikator.
Baca Selengkapnya…
Friday, August 5, 2011
Mengenal Bahan Kimia Desinfektan
UNTUK berbagai keperluan tentunya kita telah mengenal, bahkan mungkin menggunakan beberapa produk keperluan rumah tangga, laboratorium, atau rumah sakit yang bernama desinfektan. Tak jarang istilah desinfektan dirancukan dengan istilah lain yakni antiseptik. Padahal keduanya memiliki definisi dan fungsi yang berbeda.
Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian.
Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Tapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi.
Walaupun kita sering menggunakan produk desinfektan, sebagian besar konsumen tentunya belum mengenal jenis bahan kimia apa yang ada dalam produk tersebut. Padahal bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan.
Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.
Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida. Beberapa jenis bahan yang berfungsi sebagai desinfektan dijelaskan di bawah ini :
- Golongan "aldehid"
Glutaraldehid memiliki daya aksi yang lebih efektif dibanding formaldehid, sehingga lebih banyak dipilih dalam bidang virologi dan tidak berpotensi karsinogenik. Ambang batas konsentrasi kerja glutaraldehid adalah 0,1 mL/m3 atau 0,1 mg/L.
Pada prinsipnya golongan aldehid ini dapat digunakan dengan spektrum aplikasi yang luas, misalkan formaldehid untuk membunuh mikroorganisme dalam ruangan, peralatan dan lantai, sedangkan glutaraldehid untuk membunuh virus. Keunggulan golongan aldehid adalah sifatnya yang stabil, persisten, dapat dibiodegradasi, dan cocok dengan beberapa material peralatan. Sedangkan beberapa kerugiannya antara lain dapat mengakibatkan resistensi dari mikroorganisme, untuk formaldehid diduga berpotensi bersifat karsinogen, berbahaya bagi kesehatan, mengakibatkan iritasi pada sistem mukosa, aktivitas menurun dengan adanya protein serta berisiko menimbulkan api dan ledakan.
- Golongan alkohol
Golongan alkohol ini tidak efektif untuk bakteri berspora serta kurang efektif bagi virus non-lipoid. Penggunaan pada proses desinfeksi adalah untuk permukaan yang kecil, tangan dan kulit. Adapun keunggulan golongan alkohol ini adalah sifatnya yang stabil, tidak merusak material, dapat dibiodegradasi, kadang cocok untuk kulit dan hanya sedikit menurun aktivasinya bila berinteraksi dengan protein . Sedangkan beberapa kerugiannya adalah berisiko tinggi terhadap api/ledakan dan sangat cepat menguap.
- Golongan pengoksidasi
Pada prinsipnya golongan pengoksidasi dapat digunakan pada spektrum yang luas, misalkan untuk proses desinfeksi permukaan dan sebagai sediaan cair. Kekurangan golongan ini terutama oleh sifatnya yang tidak stabil, korosif, berisiko tinggi menimbulkan ledakan pada konsentrasi di atas 15 %, serta perlu penanganan khusus dalam hal pengemasan dan sistem distribusi/transpor.
- Golongan "halogen"
Umum digunakan sebagai desinfektan pada pakaian, kolam renang, lumpur air selokan. Adapun kekurangan dari golongan halogen dan senyawa terhalogenasi adalah sifatnya yang tidak stabil, sulit terbiodegradasi, dan mengiritasi mukosa.
- Golongan "fenol"
Adapun keunggulang dari golongan golongan fenol dan fenol terhalogenasi adalah sifatnya yang stabil, persisten, dan ramah terhadap beberapa jenis material, sedangkan kerugiannya antara lain susah terbiodegradasi, bersifat racun, dan korosif.
- Golongan garam
Beberapa bahan kimia yang terkenal dari golongan ini antara lain benzalkonium klorida, bensatonium klorida, dan setilpiridinium klorida. Golongan ini berdaya aksi dengan cara aktif-permukaan dalam rentang waktu sekira 10-30 menit dan umum digunakan dalam larutan air dengan konsentrasi 0,1%-5%. Aplikasi untuk proses desinfeksi hanya untuk bakteri vegetatif, dan lipovirus terutama untuk desinfeksi peralatannya.
Keunggulan dari golongan garam amonium kuarterner adalah ramah terhadap material, tidak merusak kulit, tidak beracun, tidak berbau dan bersifat sebagai pengemulsi, tetapi ada kekurangannya yakni hanya dapat terbiodegradasi sebagian. Kekurangan yang lain yang menonjol adalah menjadi kurang efektif bila digunakan pada
pakaian, spon, dan kain pel karena akan terabsorpsi bahan tersebut serta menjadi tidak aktif bila bercampur dengan sabun, protein, asam lemak dan senyawa fosfat.
Salah satu produk yang sudah dipasarkan dari golongan ini diklaim efektif untuk membunuh parvovirus, di mana virus ini merupakan jenis virus hidrofilik yang sangat susah untuk dimatikan dibandingkan virus lipofilik.
- Golongan "biguanida"
Pseudomonas aeruginosa, tetapi kurang baik untuk membunuh beberapa organisme gram negatif, spora, jamur terlebih virus serta sama sekali tidak bisa membunuh Mycoplasma pulmonis.
Faktor yang harus diperhatikan
Dari semua bahan desinfektan tersebut di atas tidak semua dapat efektif dalam semua kondisi dan aplikasi. Perbedaan jenis mikroorganisme serta kondisi lingkungan akan menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam sensitivitas atau resistensinya.
Supaya fungsi desinfektan menjadi efektif, maka ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan produk desinfektan, yakni harus dapat digunakan dalam spektrum dan aktivitas penggunaan yang luas, menunjukkan daya reduksi/bunuh terhadap
mikroorganisme hidup pada saat berkontak, dapat bekerja pada rentang pH dan suhu yang luas, dapat bekerja dengan adanya senyawa organik, waktu paparan/kerja yang cukup singkat, batas konsentrasi yang kecil, dan stabilitas senyawa.
Selain itu, untuk aplikasi di lapangan terdapat kecenderungan konsumen untuk memilih desinfektan yang aman bagi lingkungan, mudah untuk digunakan, daya aksi yang cepat serta murah. Tetapi faktor harga terkadang menjadi batasan tersendiri. Sebagai contoh banyak konsumen menggunakan desinfektan gas klor (klorin) untuk
proses desinfeksi air. Bahan tersebut bekerja dengan baik untuk membunuh bakteri, fungi dan virus, tetapi bahan ini mempunyai efek merusak/korosif pada kulit dan peralatan. Selain itu gas klorin juga berpotensi merusak sistem pernapasan bagi manusia dan binatang.
Dengan mengetahui dan mengenal jenis bahan kimia yang digunakan dalam produk desinfektan diharapkan konsumen dapat memilih produk yang tepat sasaran, yakni kesesuaian antara bahan kimia yang dikandungnya dengan jenis dan target mikroorganismenya. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan menjadi tepat sasaran, berhasil guna dan berdaya guna. Manfaat lain adalah dengan mengetahui risiko dan efek negatif yang mungkin ditimbulkan oleh bahan kimia dalam desinfektan, seperti risiko keracunan pada anak, polusi terhadap lingkungan, risiko terhadap kesehatan serta efek karsinogen, maka diharapkan konsumen lebih berhati-hati dalam penggunaan dan penanganan produk-produk tersebut.
Baca Selengkapnya…
Thursday, May 12, 2011
Bahan Kimia Pengawet

Secara garis besar pengawetan dapat dibagi dalam 3 golongan yaitu :
1) Cara alami
2) Cara biologis
3) Cara kimiawi
1) PENGAWETAN SECARA ALAMI
Proses pengawetan secara alami meliputi pemanasan dan pendinginan.
2) PENGAWETAN SECARA BIOLOGIS
Proses pengawetan secara biologis misalnya dengan peragian (fermentasi).
Peragian (Fermentasi)
Enzim
Enzim Bromalin
Enzim Papain
3) PENGAWETAN SECARA KIMIA
a) Asam propionat (natrium propionat atau kalsium propionat)
b) Asam Sitrat (citric acid)
c) Benzoat (acidum benzoicum atau flores benzoes atau benzoic acid)
d) Bleng
e) Garam dapur (natrium klorida)
f) Garam sulfat
Digunakan dalam makanan untuk mencegah timbulnya ragi, bakteri dan warna kecoklatan pada waktu pemasakan.
g) Gula pasir
h) Kaporit (Calsium hypochlorit atau hypochloris calsiucus atau chlor kalk atau kapur klor)
i) Natrium Metabisulfit
j) Nitrit dan Nitrat
k) Sendawa
l) Zat Pewarna
4. PROSES BEBAS KUMAN
Ada dua cara proses bebas kuman, yaitu sterilisasi dan pasteurisasi
Sterilisasi.
Secara alami dapat dilakukan dengan:
- memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 100oC selama 15 menit, untuk mematikan kuman dan virus;
- memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 120 oC selama 15 menit untuk mematikan spora dan jamur.
Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan antiseptik dan desinfektan.
a. Antiseptik
2. Asam dan alkali, penggunaannya sama dengan alkohol.
b. Desinfektan
c. Pasteurisasi
Baca Selengkapnya…
Wednesday, May 11, 2011
Bahaya Rokok dan Reaksi Kimia
Proses pembakaran rokok tidaklah berbeda dengan proses pembakaran bahan-bahan padat lainnya. Rokok yang terbuat dari daun tembakau kering, kertas dan zat perasa, dapat dibentuk dari unsur Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N) dan Sulfur (S) serta unsur-unsur lain yang berjumlah kecil. Rokok secara keseluruhan dapat diformulasikan secara kimia yaitu sebagai (CvHwOtNySzSi).Dua reaksi yang mungkin terjadi dalam proses merokok
CvHwOtNySzSi + O2 -> CO2+ NOx+ H2O + SOx + SiO2 (abu) ((pada suhu 800oC))
reaksi pembakaran rokok
Rokok dan proses penguapan uap air dan nikotin
Baca Selengkapnya…













